Mencela Pemimpin, Ciri Khas Kelompok Khawarij
Awalnya hanya sekedar mengkritik dan membeberkan aib pemimpin di atas mimbar,
seminar, koran dan medsos tetapi membengkak hingga tiada lain terminal akhirnya
kecuali memberontak pemimpin By Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi 13 July 2016
Mencela pemimpin merupakan ciri khas manhaj yang ditempuh oleh kaum khawarij.
Awalnya hanya sekedar mengkritik dan membeberkan aib pemimpin di atas mimbar,
seminar, koran dan medsos tetapi membengkak hingga tiada lain terminal akhirnya
kecuali memberontak pemimpin.
Jelas kiranya, metode ini menyelisihi petunjuk Nabi dalam mengingkari
penguasa dan merupakan sumber segala fitnah/kerusakan sepanjang sejarah
sebagaimana dikatakan imam Ibnu Qayyim dalam I’lam Muwaqqi’in (3/7).
Sebagai bukti bahwa metode seperti itu adalah metode yang diterapkan kaum
khawarij adalah riwayat imam Tirmidzi dan selainnya dari Ziyad bin Kusaib
Al-Adawi, katanya:
كُنْتُ مَعَ أَبِيْ بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ أَبِيْ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ, فَقَالَ أَبُوْ بِلاَلٍ: انْظُرُوْا إِلَى أَمِيْرِنَا يَلْبَسُ لِبَاسَ الْفُسَّاقِ, فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ : اسْكُتْ! سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِيْ الأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ
“Saya pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu Amir yang sedang
berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Abu Bilal berkata: Lihatlah
pemimipin kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasiq. Abu Bakrah menegurnya
seraya berkata: Diamlah, saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang
menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya“” (Lihat
Shahih Sunan Tirmdzi: 1812 oleh Al-Albani).
Imam Dzahabi berkata: “Abu Bilal namanya adalah Mirdas bin Udiyyah, seorang
khawarj tulen. Karena kejahilannya, maka dia menganggap pakaian tipis bagi kaum
pria adalah pakaiannya orang fasiq” (Siyar A’lam Nubala’ 14/508 oleh imam
Dzahabi).
Demikianlah khawarij sepanjang zaman, mereka salah kaprah dalam metode
mengingkari dan jahil akan hal yang diingkari.
Satu hal lagi yang perlu sekali saya sampaikan di sini bahwa hanya sekedar
menghujat pemimpin muslim -sekalipun fasiq- merupakan ciri khas manhaj khawarij,
sebab manusia tidak akan memberontak pemimipin tanpa ada yang menyalakan api
kebencian di hati mereka walau dengan dalih menegakkan pilar amar ma’ruf nahi
mungkar.
Oleh karenanya, para ulama menilai bahwa para penggerak pemberontakan,
pengkritik dan pencela pemimpin adalah khawarij sekalipun sepanjang sejarah
mereka tidak pernah memberontak. Dalam kitab sejarah dan firaq (kelompok dan
golongan) mereka disebut Al-Qa’adiyyah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata mensifati sebagian jenis khawarij: “Dan kaum
Al-Qa’adiyyah yaitu kelompok yang melicinkan pemberontakan terhadap pemerintah
sekalipun tidak langsung membrontak”.
Bahkan, kadang-kadang orang yang mengompori untuk berontak lebih jelek
daripada yang langsung memberontak sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dalam
Masail Ahmad hal. 271 dar Abdullah bin Muhammad berkata: “Khawarij jenis
Al-Qa’adiyyah adalah sejelek-jeleknya kelompok khawarij!”.
Para ulama masa kini juga telah membendung dan memerangi pemikiran-pemikiran
khawarij model Al-Qa’adiyyah ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata tatkala menjelaskan hadits
Dzil Huwaishiroh: “Hadits ini merupakan dalil yang sangat mendasar bahwa
berontak pada pemimpin bukan hanya dengan pedang semata tapi bisa juga dengan
perkataan dan ucapan. Perhatikanlah, orang ini (Dzul Huwaishrah), dia tidak
mengangkat pedang guna membunuh Nabi tapi dia hanya mengingkarinya (dengan
terang-terangan). Apabila dijumpai dalam sebagian kitab ahli sunnah yang
menyatakan bahwa berontak itu adalah dengan pedang, maka maksudnya adalah puncak
pemberontakan”.
(Lihat Fatawa Ulama Al-Akabir hal. 94-96 dan Madarik An Nadhar hal. 272-275
oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani).
Penulis: Ust. Abu Ubaidah As Sidawi
Sumber Artikel Muslim.or.id
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ